adalah bagian kecil dari hidup, agar ia tak redup. Sesuatu yang ingin diabadikan, namun tak mungkin akan bertahan sebab pada masanya ia pasti pergi. Tulisan barangkali bisa menjadi titik temu; antara gagasan, tanya, rasa, harapan, kebenaran, juga pencarian jawaban. Menyatu dalam sebuah bingkai berisi catatan-catatan sederhana. **(lsmdnt@catatan.aksara)**

Tentang saya :)

Total Pengunjung

Yuks menelusuri..

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

3 Jan 2019

Dua Pelajaran

Januari 03, 2019 0 Comments






"Terkadang, ketidaktahuan adalah berkah"
******
           
 Siapa yang setuju dengan kalimat ini?

"Sayaaaaaaaaaa!!!!!! "

           Yups. Entah kenapa saya setuju sekali dengan kata-kata ini. Potongan kalimat yang dikutip dari salah satu status senior pagi tadi. Sampai  akhirnya saya meminta izin untuk menscreenshoot lalu memasangnya kembali di story. Mungkin beberapa orang akan bertanya–tanya, apa yang menarik dari penggalan kalimat ini.   
Baiklah, Coba kita bahas sebentar.

         Menurut saya, memang ada saatnya terkadang ketidaktahuan lebih baik daripada keingintahuan. Kenapa? Karna ketika kita tahu, itu berefek kurang positif untuk diri kita. Dalam hal ini, berubahnya pemikiran dan pandangan, khusunya terhadap subjek (orang) tertentu. 

            Misalnya begini, saya pernah pada posisi ketika diceritakan sesuatu oleh seseorang yang sebelumnya saya tidak pernah bertanya apalagi terfikirkan untuk menanyakan hal tersebut kepadanya. Tiba-tiba  saja informasi itu datang dengan sendirinya. Ketika saya sebenarnya ingin berhenti dan mengatakan “cukup jangan ceritakan lagi”, Ssya masih terus dijejali dengan informasi yang sama. Memang dalam hal ini ketidaksengajaan, apalagi yang mengatakan hal tersebut lebih dari satu orang. 

            Lalu bagaimana saya setelah itu? Saya merenung dan bingung sebenarnya. Apa manfaat yang saya dapatkan dari informasi tsb? Kalau dikatakan tidak berpengaruh sama sekali, rasanya tidak mungkin. Apalagi jika ini berkaitan dengan orang yang sering berinteraksi dengan kita. jikapun dikatakan berpengaruh, tidak juga. Mungkin sedikit. Sehingga kesimpulannya adalah  pandangan dan penilaian saya terhadap orang yang diceritakan menjadi sedikit berubah.  Yang pernah terjadi, saya sedikit kecewa. Walaupun itu bukan hak saya sebenarnya.

            Inilah kemudian alasan mengapa jika diberi pilihan, lebih baik tau atau tidak? Saya mungkin akan memilih ketidaktahuaan. dalam kondisi seperti ini, yaa. Sebab pada ketidaktahuan saya akan berfikir dan bertindak  biasa saja pada orang-orang sekitar saya tanpa menaruh pandangan yang berhubungan dengan masa lalunya atau apa saja yang telah dilakukannya menurut versi cerita yang telah saya dengar sebelumnya.
Bukankah setiap orang memang punya masa lalu, apa sekarang dia tidak pantas untuk berubah? Tentu saja setiap orang berhak bukan?

Lalu di sini siapa yang harus disalahkan?

Oke. Atas informasi dan cerita apapun yang pernah saya terima. Saya memutuskan untuk tak menyalahkan siapa-siapa.

Mungkin. Ini kemungkinan saja, bukan pembenaran. 
Pertama. Si pemberi informasi berniat baik ingin memberitahu kita supaya kita tahu dan tetap menjaga diri setelah itu.
Kedua, diri  kita sendiri.  Hey, Kita juga tidak berkeinginan untuk mencari tau kan, tapi informasi itu datang dengan sendirinya tanpa kita bertanya.
Ketiga. Subjek/objek cerita. Tidak mungkin juga kita menyalahkan mereka. Yang diceritakan pasti tidak mungkin mau menjadi objek cerita orang-orang. Terlebih lagi jika berita itu tidak benar. Jikapun benar, berpasangka baik saja, mungkin mereka punya alasan yang alasan itu tidak bisa mereka bagikan kepada semua orang.

Tapi jikapun harus ada yang disalahkan, lebih baik salahkan diri sendiri saja. Sebab kita adalah yang paling bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Kita bisa membatasi informasi apa saja yang selayaknya kita dengar, kita olah di fikiran, atau yang harus kita ceritakan kembali. Yups, kita adalah pemegang kontrol diri.

          Pada intinya. Tidak semua hal mesti kita tau dan cari tau. Tidak semua cerita harus kita simak. Tidak semua suara harus kita dengar. Bukan maknanya kita tak peduli. Bukan. Kadang kita memang harus begitu. Cukup tidak tau. Jika sudah terlanjur tau, cobalah untuk tak memikirkannya terlalu jauh..

Sekarang saya sedang belajar untuk begitu..

*****

"Ketika mendengar sesuatu, biasakanlah untuk bertanya"

            Oke, ini pelajaran kedua. Jika nasihat pertama tadi saya dapatkan pagi. Maka yang kedua ini saya dapatkan siang hari. Berawal dari pembicaraan kami bertiga (saya, teman, dan salah satu senior kami) di sela-sela dauroh, di luar ruangan. Sebenarnya kata-kata ini sudah biasa terdengar dan terucapkan. Tapi siang ini rasanya agak berbeda. Tepatnya lebih mengena. 

            Berawal dari pembahasan kami tentang satu isu yang berakhir dan merembet pada suatu cerita (read: kasus). Sebab ini berkaitan dengan orang yang kami kenal otomatis kebenarannya kami tau, tentu dari yang bersangkutan. Nah yang menjadi masalah disini adalah ketika misalnya  cerita ini bergulir dari ucapan beberapa orang dan ternyata hal tersebut salah. Ini tentu menjadi sesuatu yang kurang menyenangkan dan bisa jadi merugikan  bagi subjek yang diisukan. Sehingga salah satu senior kami tadi berkata seperti ini. 

“kite tuh, kalau dapat/dengar informasi langsung jak klarifikasi ke orangnye. Benar ndak? Jangan ke yang bawa cerite karna terkadang mereka sendiripun ndak tau ape yang sebenarnye terjadi".

            Saya setuju. Prinsip tabayyun itu memang penting. Dari situlah salah satu jalan kita akan menemukan kebenaran. Atau setidaknya alasan sebuah tindakan. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Atau bagaimana kejadian yang sebenarnya?. Saya yakin, setiap hal yang dilakukan seseorang pasti punya alasan. Alasannya beragam, ada yang bisa diterima, bisa dimaklumi, atau bisa jadi hanya sebuah pembenaran yang disitu sebenarnya mereka sedang keliru. Jika memang disitu ada kekeliruan,  kita akhirnya  bisa meluruskan dengan memberi nasihat dan pandangan.

            Membahas ini saya jadi teringat sebuah kejadian. Sebab saya sendiri pernah merasa berada pada posisi “disalahfahami”. Jadi waktu itu (sudah beberapa tahun yang lalu), disebabkan oleh tulisan yang tidak sengaja saya tulis di sebuah grup tentang kritik saya terhadap sesuatu. Nah Sekitar lima belas menit setelah mengirim itu, saya putuskan untuk dihapus saja sebelum dibaca lebih lanjut. Ternyata di grup itu, pesan  apapun yang sudah ditulis sekalipun telah kita hapus tetap bisa dibaca orang lain dan saya tidak tau itu. Saya sendiri  baru tau setelah tiga hari sebab dikirimi pesan pribadi yang berisi video nasihat untuk tak saling berdebat oleh salah satu junior . Saya bingung, kenapa. Dan di hari itulah saya baru tersadar bahwa orang-orang (read: teman-teman) membicarakan dan mendebatkan tulisan itu. Saya benar-benar baru tau sebab dalam rentang tiga hari itu tidak ada yang bertanya atau klarifikasi. Sebab tulisan itu juga saya di “tuduh” ini itu, intinya dinilai yang kurang sopanlah. sesuatu yang sederhana sebenarnya. Bisa dikatakan sepele tapi berefek luar biasa. Orang orang menjadi kecewa terhadap saya dan saya tentu juga kecewa dengan orang-orang. Mengapa tidak ada satu orang pun yang menanyakan kepada saya apa maksud tulisan yang sebenarnya telah saya hapus itu? jika ditanya saya pasti akan menjawab alasannya. 
Apa yang terjadi, sebabnya apa. begitu.
Karna hal tersebut juga, beberapa orang di luar grup akhirnya juga tau. (And I always ask “why?” 😓

“Nasi sudah menjadi bubur, anak panah sudah terlanjur berpisah dari busur. Kira-kira begitulah. Hanya kata maaf dan komitmen untuk senantiasa berhati-hati ke depan menjadi penguat dan perekat kembali sebuah kesalahfahaman”.

            Klarifikasi, tanyakan kembali. Kira-kira begitulah hendaknya sikap kita saat menghadapi suatu berita. Saya juga mungkin  pernah tersilap, melewatkan proses bertanya dan klarifikasi kembali setelah mendapat informasi. Ini untuk beberapa kondisi saja. Misalnya cerita yang saya tiba-tiba dapatkan tanpa saya tanyakan sebelumnya. Apalagi ia berkaitan dengan kisah (masa lalu misalnya) milik seseorang. Privasinya apalagi. Sesuatu yang saya yakin orang tersebut tidak akan senang jika kita tanyakan. Itu tentu tidak mungkin kan.

            Cara bertanya pun hendaknya hati-hati. Cari moment yang pas, kondisi yang paling memungkinkan, bahasa yang paling halus dan tidak menyakitkan, dan nasihat paling lembut yang bisa kita berikan. 

            Ah. Semoga saya bisa begitu. Menjadi manusia yang tak mudah menjudge orang lain, berusaha memahami sebelum terburu-buru menyimpulkan, serta tetap berprasangka baik demi menemukan kebenaran. 

          Maafkan saya yang pernah beberapa kali sebab mendengar suatu cerita yang saya sendiri belum tau kebenarannya, diam-diam menjadi sedikit menyimpan kecewa, dan cerita itu sampai saat ini belum diklarifikasi (karna itu tidak memungkinkan untuk ditanyakan)🙏. 

Tapi apapun itu, setelah terlanjur tau, saya memilih untuk tak mau tau saja. Selayaknya diam yang terkadang lebih baik dibanding berbicara. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.
[al-Hujurât/49:6
].

************
Salam sayang dari saya.
🌻
#Catatan.Aksara.

2 Okt 2018

Doa dan donasi kita Untuk Palu dan Donggala,

Oktober 02, 2018 0 Comments


Donggala adalah sebuah daerah di Provinsi Sulawesi Tengah, bagian dari Indonesia. 

***********
Saat kabar tentang bencana itu muncul, itulah kali pertama aku mendengar nama Donggala sehingga tidak banyak yang kuketahui tentangnya.  Namun sekarang aku tahu, bahwa di sana ada saudara sebangsa setanah air yang sedang kesusahan tertimpa musibah bencana gempa.  Ya, mereka sedang diuji.  Ratusan manusia di sana meninggal disebabkan oleh gempa dan tsunami.  Ada yang luka luka dan ribuan orang mengungsi.  Aku tidak bisa membayangkan kekalutan dan ketakutan yang mereka alami.  Namun hati kami disini bersimpati.  

Atas nama kemanusiaan dan persaudaraan,  apa yang bisa kita lakukan? Apakah hanya sekadar membaca berita tentang mereka lalu membagikannya di sosial media sembari memberi caption "pray for Palu dan Donggala".  Atau sekadar berkomentar "kasian mereka disana".

Baiklah, sekarang bukan saatnya mempermasalahkan hal tersebut.  Dan bukan berarti juga itu perbuatan tidak baik, bukan. Hanya ingin mengajak kita sama-sama merenung.  Apakah dengan begitu mereka terbantu?  Apakah itu adalah cara terbaik kita meringankan derita mereka?..  
Bukankah iman itu butuh pembuktian. Menurutku, jika kita benar-benar simpati, maka buktikan. ..
Sekali lagi pertanyaannya adalah "Apa yang bisa saya lakukan?" ..
Pembuktian seperti apa yang bisa kita berikan?  Silahkan direnungkan. 

Bercerita sedikit, sore ini aku dan teman-teman yang tergabung di salah satu organisasi (*sebut saja kami adalah KAMMI  😃)  berikhtiar untuk membantu mereka secara materi.  Kami turun ke jalan untuk menggalang donasi.  Derasnya hujan tak menghalangi langkah untuk menapak kaki di atas jalanan yang masih menyisakan genangan sembari menggenggam kotak dengan kedua tangan.  Menutupinya dari basah sisa tetesan hujan. 
Alhamdulillah, empat sudut lampu merah bundaran Untan hari ini  menjadi saksi.  Kami memang belum bisa berbuat banyak, tapi kami ingin peduli.  Ternyata bukan hanya kami, beberapa teman-teman dari organisasi lain rupanya juga turun kali ini.  Yah, semakin banyak semakin lebih baik.  Bukankah kebaikan itu memang harus berkalaborasi?

Donasi yang terkumpul tadi sekitar 4 juta lebih.  Semoga di minggu-minggu ini bisa turun lagi.  Aamiin.

********
Dear Palu dan Donggala.  
Banyak yang menyebut namamu hari ini.  Banyak yang memikirkanmu saat ini.  Yakinlah ini adalah ujian yang Allah berikan guna menguatkan.  Merasakan memang tidak semudah mengatakan.  Kami mengerti bahwa semuanya tidaklah mudah ketika kalian harus kehilangan keluarga, rumah dan pekerjaan.  Kami memohonkan doa terbaik dan berupaya untuk terus bersama kalian. Insya Allah. 


Ada nasihat yang ku dengar sore tadi dan masih kuingat ketika menyusuri jalan pulang. Diucapkan oleh seseorang yang tidak ingin kusebutkan dia siapa.
Kurang lebih dia mengatakan seperti ini:

"Belum kering luka di Lombok kita kembali dihadapkan  pada kabar bencana yang menimpa saudara kita di Palu dan Donggala. kita patut bersyukur di tempat kita hari ini  belum pernah ditimpa bencana seperti di sana. Atas segala musibah yang terjadi kita patut Introspeksi diri.  Barangkali ini terjadi sebab kemaksiatan yang kita lakukan.  Bisa jadi disini yang berbuat tapi disana yg ditimpakan. (Wallahu a'lam) . 
Semoga kita semakin mendekatkan diri pada Allah.  Bersihkan hati kita dari kemaksiatan dan dosa yang kita lakukan.  Semoga Allah membalas kebaikan teman - teman..  
Aku mengamini doanya kali ini.

Dear Palu dan Donggala.  
Begitulah ceritaku sore ini.  Semoga Allah Mudahkan segala urusan kita baik kami yang di sini maupun kalian yang di sana.  Ku titipkan salam sayang untuk anak-anak yang kehilangan orang tuanya, mereka mereka yang kehilangan anggota keluarganya, sahabatnya,  saudaranya. Mudah mudahan Allah menempatkan orang orang ini di syurga. Aaminn.
Dan Semoga  Allah juga membalas kebaikan para pemberi donasi di jalan tadi dengan kebaikan yang berlipat ganda.   

Semoga berkah, ikhwah. Salam cintaku untuk Palu dan Donggala.  Berharap suatu waktu bisa ke sana.  Aamiin💛💛💛

*******
Murdianti. Lusi

23 Apr 2018

About "SUKSES"

April 23, 2018 2 Comments


Hasil gambar untuk sukses+gambar

********************************
            Minggu ini kembali mendapatkan pencerahan tentang “kesuksesan”. Hitung-hitung sebagai suntikan amunisi semangat. Maklum, semangat itu selalu  mengalami fluktuasi, naik turun kadarnya. Motivasi ini disampaikan oleh Pak Eka seorang motivator sekaligus dosen asal Kota Malang, beliau mengajar di Univ. Brawijaya (semoga suatu saat bisa menginjakkan kaki kesana, aamiin :D).
            Beliau mengawali seminar dengan membahas tentang masa muda. Bahwa masa muda adalah masa berkumpulnya semua harapan potensial. Oleh karena itu ia menjadi sangat berharga. Di masa ini, kita perlahan ditempa untuk menjadi matang, terutama pemikiran.
            Tentu banyak peristiwa dan pengalaman yang akan kita lewati dalam proses hidup ini. Dan harusnya setiap rentetan kejadian itu bisa kita maknai. Pada saat menyampaikan materi, Pak Eka menyampaikan bahwa beliau pernah meraih prestasi. Kamu tau prestasi apa saja yang dituliskannya pada slide di depan sana? Sesuatu yang tak disangka dan menimbulkan gelak tawa pada awalnya. Salah satunya adalah prestasi beliau memenangkan lomba lompat karung, sesuatu yang mungkin tidak akan pernah kita kira akan ditampilkan oleh seorang tokoh hebat yang bahkan sudah menamatkan pendidikan S3 nya. Namun inilah kejutan dari beliau yang menyadarkan kita semuanya bahwa “hal yang kita anggap kecil itu nyatanya juga sebuah prestasi, sesuatu yang berharga. Bagaimana kita bisa membuat orang lain menghargai yang kita miliki, yang juga bagian dari kita jika kita sendiri tidak pernah menghargainya. Sesekali cobalah kita melihat dari sudut pandang yang berbeda”.
            Ketika kita menghargai hal kecil tadi artinya kita mensyukurinya. Dan mensyukuri sesuatu adalah bagian penting dari kesuksesan.  Sukses adalah mindseat atau apa yang kita fikirkan. Sukses berawal dari kita, dari kemauan kita, kita percaya atau tidak bahwa kita akan mendapatkannya ? (jawab sendiri J).
******************************
            Sukses itu adalah saat kita meyakini setelah kesulitan ada kemudahan (inna ma’al usriyusro, fainnama’al usriyusro), sukses itu adalah ketika kita yakin bahwa Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya (kita adalah hamba, jadi jangan khawatir dengan masalah yang Allah hadiahkan. Allah sudah janjikan ini dalam Al-Qur’an),  dan sukses adalah saat apa yang kita lakukan bisa bermanfaat untuk orang lain.
            Lalu apa sebenarnya yang menggerakkan kita untuk menuju sukses itu? Yups, Fikiran. Fikiranlah yang kemudian menjadi pendorong untuk kita melakukan sesuatu, termasuk berjalan kearah pintu sukses itu.  Jika suatu waktu ada pertanyaan “mengapa ikut pelatihan (dauroh) dan belajar (holaqoh)? Mindseat kita adalah agar bisa menguprade kemampuan dan fikiran kita , karena disana amunisi pemahaman kita ditambah. Bertambahnya pemahaman adalah persiapan sukses yang mesti kita matangkan.
            Sukses yang sudah terpatri dalam fikiran kita kemudian butuh tahapan tahapan untuk dibuat nyata. Bagaimana? Jawabnya, ikhtiar lalu bertawakkal. Hadapi tantangannya lalu taklukkan. Setelah semua itu, kita serahkan kepada yang Maha Tahu.
            Sukses adalah mindseat. Kita harus menyetel ulang pemahaman dan keyakinan kita tentang ini.
Ada sebuah kisah menarik tentang 2 orang karyawan yang ditugaskan bosnya untuk melihat peluang pasar produk sepatu dan sandal di Wilayah Afrika. Singkat cerita berangkatlah kedua karyawan ini. karyawan A pergi kesana dan menemukan pemandangan bahwa semua orang di wilayah tersebut  tidak ada yang memakai sepatu/sandal. Pulanglah dia ke Indonesia dan melaporkan kepada bosnya
A:  “ Pak, orang-orang di Afrika tidak ada yang memakai alas kaki, sepertinya memang tidak ada peluang pasar kita di sana pak, kita tidak bisa menjual produk kita kepada mereka.
Bosnya kemudian menjawab ; Baik, kita tunggu dulu temanmu si B.
Si B pun datang melaporkan pemandangan yang dilihatnya disana. Sama seperti yang dilihat Si A, Namun B kemudian dengan wajah ceria mengatakan ;
B : Pak, “ Pak, orang- orang di Afrika tidak ada yang memakai alas kaki,  ini akan menjadi peluang pasar yang besar bagi perusahaan kita pak. Kita bisa mendirikan pabrik di sana dan membuat orang orang afrika memakai alas kaki.

            Nah, dari cerita itu kita bisa menyimpulkan bahwa meskipun fakta dan keadaan sama, namun saat mindseat dan pemikiran berbeda maka akan menghasilkan tindakan yang berbeda pula. Adapun orang yang bermental sukses adalah yang bisa mempunyai pemikiran seperti Si B. Apakah kita bisa seperti itu?
            Oleh karena itu, untuk menyiapkan sukses maka sibuklah memperbaiki diri mulai sekarang, jangan ditunda tunda lagi. Mulailah dengan mengenal diri kita, karna saat kita sudah mengenal diri sendiri maka kita bisa menentukan arah dan apa yang bisa kita lakukan. Jangan hanya terfokus bercermin pada orang lain. Setelah itu kita bisa merencanakan apa saja yang bisa kita lakukan sesuai potensi dan kelemahan yang kita miliki. Masalah utama kita adalah menumbuhkan kemauan awal untuk melangkah, kemudian menjaga kekonsistenan dalam langkah itu.  Kemudian hal yang juga sering mengahambat dalam memulainya adalah tidak tahu caranya. Bagaimana? Gampang, kita hanya perlu rumus ATM. Amati, tiru dan modifikasi.. ok siip..
            Semoga bermanfaat dan selamat berjalan menuju suksesmu..
Aku Otw J. Sampai jumpa disana..

**Murdianti_lusi