adalah bagian kecil dari hidup, agar ia tak redup. Sesuatu yang ingin diabadikan, namun tak mungkin akan bertahan sebab pada masanya ia pasti pergi. Tulisan barangkali bisa menjadi titik temu; antara gagasan, tanya, rasa, harapan, kebenaran, juga pencarian jawaban. Menyatu dalam sebuah bingkai berisi catatan-catatan sederhana. **(lsmdnt@catatan.aksara)**

Tentang saya :)

Total Pengunjung

Yuks menelusuri..

13 Sep 2018

Bu Wagiyem : “Sosok Perempuan Hebat Kalimantan Barat”

September 13, 2018 0 Comments




Tulisan ini merupakan karya pertama yang berani saya publish untuk lomba menulis. April 2018, dibuat dalam waktu semalam (kali kedua saya lembur dan tidak tidur). Melalui proses singkat dengan dua kali wawancara langsung bersama narasumber, Alhamdulillah kisah yang beliau utarakan coba saya rangkai dengan kata-kata sederhana: sesuai kemampuan saya. Dalam banyaknya kekurangan karya saya ini, saya berharap ada inspirasi yang kita dapatkan dari sosok beliau. Karna jujur, saya sendiri adalah orang yang mengagumi beliau. Kepada dosen saya; Ibu Hj.Wagiyem, terimakasih sudah mempercayakan saya untuk menulis kisah hidup Ibu. semoga terus menginspirasi.

(Perempuan Inspiratif KalBar: Pendidik, Inspirator, Aktivis Dakwah)
oleh Lusi Murdianti




********************
“Perempuan adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan diberikan potensi. Potesi yang dimiliki tidak boleh diabaikan, dalam artian kita harus berfikiran kedepan, harus punya kemandirian.  Niatkan segala sesuatu yang kita lakukan agar menjadi ladang  amal sholeh dan tabungan akhirat”. (Hj. Wagiyem)


            Ini adalah kisah tentang salah satu tokoh perempuan Kalimantan Barat yang begitu menginspirasi. Hidup bersama seorang Ibu single parent namun mampu mendidiknya menjadi seseorang yang berhasil. Takdir membawanya mendapatkan anugerah yang luar biasa, bisa mengunjungi Baitullah saat usia 7 tahun kemudian menghabiskan 10 tahun masa kecil sampai remajanya di Kota Suci, Mekkah.

            Kembali ke Indonesia melanjutkan pendidikan dengan tetap membawaserta mimpi dan harapan yang tak kunjung padam. Tekadnya untuk berhasil sangat kuat. Beliau menjadikan kedekatan dengan Allah sebagai alasan setiap tindakan. Doa dan ikhtiar selalu mengiringi perjalanan hidupnya.
            Perempuan cerdas, sosok luar biasa yang tidak henti-hentinya menebar manfaat. Tidak hanya di keluarga, lingkungan kerja, beliau juga mengabdikan dirinya di masyarakat.  Perempuan paripurna, menginspirasi.

      ************************* 


          Wagiyem atau yang lebih sering disapa Bu Wagiyem adalah  salah satu tokoh perempuan yang konsen di dunia pendidikan. Beliau dikenal sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Kalimantan Barat .Mengemban amanah penting menjadi  pimpinan salah satu organisasi besar di Kalimantan Barat tidak membuat ia lupa dengan tugas utamanya, beliau tetap menjadi sosok anak, istri dan ibu bagi keluarganya. Keberadaannya selalu menginspirasi setiap yang mengenalnya baik orang terdekat, mahasiswa maupun masyarakat yang pernah berinteraksi dengan beliau.
            Perempuan hebat ini lahir di Pontianak, 4 mei 1966. Buah hati dari Alm.Syamsuddin (bapak) dan Hj.Maemunah (Ibu). Pada masa kecilnya beliau dirawat oleh Ibunya yang memutuskan menjadi single parent karena berpisah dari Bapak. Bu Wagiyem merupakan bungsu dari tiga bersaudara, satu-satunya anak perempuan sebab kedua kakaknya laki-laki. Terlahir dari keluarga sederhana dan tidak memiliki sosok lengkap kedua orang tua membuatnya banyak belajar tentang bagaimana berjuang mewujudkan mimpi dan harapan.
            Ibunya adalah sosok hebat yang paling berjasa menghantarkan beliau pada keberhasilan. Perempuan dengan prinsip hidup yang kuat, pekerja keras, ulet, hemat, disiplin, serta  tidak bergantung pada orang lain ini juga mendidik anaknya dengan baik. Satu prinsip yang selalu dipegang teguh oleh ibu beliau yaitu “walaupun saya tidak sekolah, tapi anak saya harus sekolah dan berpendidikan” kalimat itu yang selalu beliau ucapkan. Beliau  selalu berusaha mewujudkan harapan dan cita-citanya, salah satunya adalah beliau ingin menunaikan haji ke Baitullah.
            Walaupun menjadi single parent dan harus menafkahi ketiga anaknya, Ibu beliau; Hj. Maemunah  kemudian menabung dari hasil usaha jualannya untuk berangkat haji. Meskipun pada awalnya banyak yang tidak percaya dan berpendapat bahwa lebih baik uang tabungan itu untuk hidup ketiga anaknya namun dengan tekad yang kuat alhamdulillah beliau bisa menunaikan haji di Mekkah. Setelah itu kehidupan mereka membaik dan kembali Allah berikan kesempatan untuk menunaikan haji sampai tiga kali. Setelah itu, pada kali keempat keberangkatannya ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah umroh ternyata kemudian menjadi babak baru dalam perjalanan hidup beliau, termasuk perjalanan Bu Wagiyem.
            Tahun 1974, saat itu Bu Wagiyem masih berusia sekitar 7 tahun. Beliau dengan bersemangat meminta untuk ikut dengan ibunya. Mendengar Hj.Maemunah sering bercerita tentang suasana dan keindahan Baitullah, Wagiyem kecil menjadi punya harapan kuat ingin terbang juga kesana. Baitullah adalah rumah Allah, dan dalam imajinasi polos beliau jika pergi ke Baitullah maka akan bertemu langsung dengan Allah. Hanya itu harapan sederhananya. Akan tetapi, perasaan spiritual yang muncul sejak kecil itulah yang kemudian setelah dewasa baru bisa beliau maknai.
            Beberapa pengalaman spiritual ini yang beliau dapatkan sangat beliau syukuri. Salah satunya adalah pada awal keberangkatan menuju Jakarta sebelum bertolak ke tanah suci. Mereka berdua berangkat dari Pontianak ke Jakarta dengan asumsi bahwa saudaranya akan menjemput di bandara Jakarta. Hj. Maemunah tidak tahu bahwa ada informasi tentang pesawat akan delay. Begitu sampai ke Jakarta tidak ada jemputan, mereka menunggu sampai malam. Akhirnya mereka bertemu dengan orang yang menawarkan penginapan tidak jauh dari bandara. Berjumpa dengan orang baik hati mereka juga diberi kemudahan serta dijamu. Wagiyem kecil adalah sosok yang supel, mudah berinteraksi dan suka bercengkerama dengan anak kecil sehingga orang tuanya menjadi senang dengan beliau dan akhirnya menjadi penghubung turut membantu mencari tau saudara yang seharusnya menjemput kedatangan mereka. Bu Wagiyem dan ibunya pada saat itu diantar kembali ke bandara hingga akhirnya bertemu saudara mereka.
            Singkat cerita, berangkatlah mereka berdua ke tanah suci ntuk melaksanakan ibadah umroh. Pada saat hendak pulang, mereka berkunjung dulu ke rumah teman H. Maemunah yang menetap di Mekkah. Teman ibunya Bu Wagiyem ini kemudian menawarkan untuk mereka berdua menetap saja disana dan memasukkan Bu Wagiyem ke sekolah dasar di Mekkah. Di Mekkah beliau tinggal dengan Ummi dan Syekh  yang sudah seperti orang tua beliau sendiri. Syekh adalah orang Mekkah yang bertugas mengkoordinir dan mengelola jamaah haji yang ke Mekkah. Tinggal di Mekkah membuat beliau harus berinteraksi dan menyesuaikan segala hal dengan keadaan disana.
            Sejak kecil beliau adalah sosok yang cerdas dan mendapatkan prestasi. Pada saat Madrasah Ibtidaiyah di Mekkah, Bu Wagiyem selalu mendapatkan rangking satu dengan predikat mumtaz. Salah satu kebahagiaan  dan motivasi beliau adalah saat mendapatkan hadiah sebagai apresiasi prestasi yang didapatkan. Enam tahun di Madrasah Ibtidaiyah kemudian beliau melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah, di sekolah menengah beliau juga mendapatkan prestasi, meskipun tidak juara satu tetapi masih masuk dalam peringkat lima besar. Setamat Madrasah Ibtidaiyah beliau melanjutkan lagi ke sekolah yang jika di Indonesia setara dengan Sekolah Menengah Atas. Tahun 1984 , setahun setelah  berada di sekolah menengah atas akhirnya beliau memutuskan untuk kembali ke Tanah Air.
            Sepulangnya ke Tanah Air, Bu Wagiyem memilih tetap untuk melanjutkan pendidikan kembali. Atas saran keluarga, karena beliau punya latar belakang pendidikan berbasis agama dan bahasa arab akhirnya bersekolah di PGA Pontianak (Pendidikan Guru Agama Islam ; saat ini sudah berubah menjadi MAN 2 Pontianak). Ada pengalaman menarik, saat pertama kali masuk, beliau tidak diizinkan untuk langsung belajar bergabung dengan teman teman kelas, melainkan disuruh untuk belajar dan membaca buku di perpustakaan guna menyesuaikan dengan kurikulum dan bahan pelajaran yang diterapkan di Indonesia. Sebulan lamanya beliau melakukan rutinitas yang sama hingga merasa bosan dan dengan memberanikan diri mengahadap Kepala Sekolah untuk meminta izin bergabung mengikuti pelajaran di kelas bersama teman-teman yang lain. Beliau merasa bahwa penting untuk bersosialisasi dengan teman-teman barunya hingga bisa menyesuaikan dengan lingkungan belajar yang juga baru. Tidak butuh waktu lama, beliau sudah bisa dekat dengan teman-temannya. Sebagai murid baru saat itu, Bu Wagiyem luar biasa. Ketika naik tingkat ke kelas dua, beliau  meraih juara satu sampai seterusnya begitu.
            Setamat PGA tahun 1986, beliau berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah meskipun keadaan saat itu sangat memungkinkan untuk langsung melamar kerja karena setemat PGA sudah bisa mendaftar mejadi guru. Namun Bu Wagiyem berfikiran bahwa ilmu agama yang dimilikinya masih harus ditambah sehingga beliau memutuskan untuk mendaftar di jurusan bahasa Arab, fakultas tarbiyah STAIN Pontianak yang pada saat itu masih di bawah Yayasan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
            Di dunia kampus inilah kemudian beliau banyak mendapatkan pengalaman dan pelajaran hidup yang berharga. Pada saat itu kondisi fasilitas kampus masih sangat minim dan mahasiswa juga tidak banyak. Dua kelas jurusan PAI ( Pendidikan Agama Islam) dan satu kelas bahasa Arab. Jumlah mahasiswa hanya 10 orang untuk mahasiswa bahasa Arab, dan Bu Wagiyem menjadi satu-satunya perempuan yang mengambil jurusan itu.   Prinsip Bu Wagiyem pada saat itu beliau tidak suka melihat orang lain menyontek. Ada rasa tidak rela dan tidak adil  bagi beliau.
            Saat itu karena mahasiswa jurusan bahasa Arab sedikit jadi sering bergabung dengan mahasiswa PAI untuk mata kuliah umum. Beliau memang terbiasa mencatat point-point penting yang dijelaskan dosen. Beliau adalah tipe orang yang jika membaca harus dari awal sampai akhir, rasa ingin tahu dan minat bacanya yang tinggi. Yang menarik dari beliau ialah beliau yang susah memahami catatan orang lain meskipun dengan tulisan sangat rapi dibandingkan catatan sendiri walau tidak terlalu rapi. Pengalaman yang tidak beliau lupakan adalah ketika ujian mata kuliah sosiologi, saat itu beliau lupa untuk mempelajari kembali materi untuk ujian. Kondisi susasana kelas yang ramai menjadikan pengawasan yang agak kurang, teman-teman beliau banyak yang mencontek, ada godaan agar beliau juga igin begitu tapi beliau meyakinkan dirinya sendiri untuk jujur meskipun hasilnya seadanya. Ada rasa tidak percaya diri saat itu, tapi Alhamdulilah tidak disangka hasilnya memuaskan.
            Selain mata kuliah sosiologi, ada satu mata kuliah lagi yang berkesan bagi beliau. Saat itu mata kuliah psikologi dengan dosen yang begitu perfect dan detail dengan penilaian dari ujian tulis, wawancara sampai sikap dan keaktifan saat di kelas. Saat ujian, salah satu teman beliau bertanya tentang maksud dari soalnya, beliau bantu menjelaskan karna yang ditanya soal; bukan jawaban. Tapi sudah terlanjur tertangkap basah dipandangi oleh dosennya. Saat itu juga beliau khawatir dan berfikiran bahwa tidak akan lulus sebab takut dianggap mencontek kepada temannya. Beliau sudah berfikiran akan mengulang jika tidak lulus, tidak disangka saat pengumuman nilai dari puluhan mahasiswa hanya 2 mahasiswa yang dapat nilai A (saat u standar nilai A adalah rentang 85-100). Nilai A adalah nilai yang sudah didapatkan. Ternyata salah satu dari yang mendapatkan A itu adalah beliau. Keyakinan dari pengalaman seperti itu yang juga mengahantarkan beliau memaknai sikap sikap positif yang diterapkan sampai saat ini.
Sejak semester  satu beliau sudah punya keinginan untuk menjadi dosen dan bertanya dengan dosen apa syarat menjadi dosen. Salah satunya dijelaskan bahwa syarat menjadi dosen adalah ipk minimal 3. Beliau kemudian memasang target dan tujuan untuk meraih harapannya. Pengalaman saat kuliah juga, kelemahan beliau adalah sosok yang kurang suka tugas kelompok, lebih suka tugas mandiri karena tugas kelompok yang beliau anggap kurang efektif mulai dari kurangnya koordinasi, waktu yang kurang dimanfaatkan dengan baik karena saat bertemu akan bercerita dan beberapa hal lainnya.
            Motivasi beliau timbul dari lingkungan keluarga dan sosok ibu yang tegas bahkan saat beliau sudah kuliah. Misal saat meminta uang untuk membeli bedak atau hal lain yang kurang bermanfaat tidak diberikan akan tetapi jika uang untuk membeli buku, kepentingan untuk belajar atau transportasi kuliah itu pasti langsung diberikan. Beliau sejak mudah sudah berpegang pada prinsip tidak mau goncengan dengan laki-laki karena bukan mahram, diajarkan untuk mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.
            Sambil kuliah Bu Wagiyem menjadi tenaga hororer di perpustakaan saat itu dengan gaji masih 15 ribu pada tahun 1987. Ini dianggapnya sebagai strategi dan kesempatan supaya bisa lebih banyak membaca buku karena jika meminjam biasa mungkin hanya bisa minjam 2, tapi kalau kerja bisa banyak buku.
            Beberapa waktu setelah itu kemudian beliau memutuskan untuk berhenti dengan alasan fokus skpripsi. Beliau adalah sosok yang senang melakukan sesuatu secara terencana. Selalu mentarget segala sesuatunya termasuk masa pengerjaan skripsi. Banyak tantangan juga salah satunya adalah pengalaman beliau saat harus mendatangi dosen subuh subuh untuk bimbingan dikarenakan dosen pembibing beliau tidak  lama setelah itu harus berangkat keluar mek]lanjutkan studi.  Alhamdulillah, proses itu bisa dilewati sehingga beliau bisa menyelesaikan kuliah kurang lebih 5 tahun. Tahun 1991, beliau mendapatkan predikat terbaik dan harus wisuda di Jakarta karna STAIN saat itu masih di bawah naungan IAIN syahid Jakarta. Ini menjadi kebahagiaan yang luar biasa bagi beliau karena bisa bersalaman dengan Rektor yang kesempatan itu tidak dimiiki semua peserta wisuda sebab terlalu ramai.
            Setelah wisuda beliau memasukkan lamaran ke beberapa instansi, termasuk instansi diluar negeri seperti Malayasia dan Brunei. Namun takdir membawanya untuk menjadi pengajar di tempat asalnya menuntut ilmu, dosen di Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah STAIN Pontianak.
            Di masa mudanya, Bu Wagiyem adalah sosok yang memegang teguh prinsip dan mempunyai pandangan bahwa tidak boleh berpacaran di dalam Islam sehingga selalu menjaga diri. Salah satu tipe yang beliau harapkan bisa menjadi imam beliau adalah memiliki kesamaan visi, agamanya kuat, bertanggung jawab, juga seorang aktivis supaya nantinya tidak memikirkan diri dan keluarga saja tapi juga memikirkan orang lain dengan berdakwah. Alhamdulillah beliau bertemu dengan bapak H. Abdussomad yang saat ini menjadi suaminya. Mereka menikah tahun 1992, tidak lama setelah itu SK PNS Bu Wagiyem mengajar di STAIN juga keluar.

Peran di Keluarga
            Bu Wagiyem mempunyai suami dan dua orang anak. Dua anak perempuannya yaitu Ariza dan Arifa. Hj. Maemunah, nenek dari Ariza dan Arifa juga tinggal bersama mereka. Saat ini mereka bertempat tinggal di Jl. Gusti Hamzah gg. Nursalim Pontianak.
            Beliau merasa beruntung mendapatkan suami yang selalu mengajak kebersamaan. Berbagi segala tugas pekerjaan rumah mulai dari mencuci, menyeterika, mencuci piring, bekemas rumah sampai memasak. Untuk kedua anaknya beliau mengajarkan anak-anak memang tidak ditekankan harus juara 1 tapi ditekankan bahwa sekolah itu penting sehingga mereka termotivasi dan mendapatkan prestasi di sekolah. Pada akhirnya anak beliau menjadi sosok yang mandiri dan disiplin,
            Tantangan dan ujian bagi beliau di tengah keluarga pada saat itu adalah terkait melanjutkan pendidikan. Tahun 1998. Beliau saat itu, harus S2. Dilema karena harus S2 di luar pulau Kalimantan yaitu di IAIN Walisongo Semarang. Anak bungsu Bu Wagiyem saat itu baru berusia kurang dari 2 tahun. Pada kondisi itu, hampir setiap hari beliau menelepon, karna hanya bisa pulang setiap liburan menggunakan kapal, seperti libur semester. Tapi semua itu didukung oleh Ibu dan suami. Yang paling mengharukan adalah pernah saat beliau pulang liburan “Anak bungsunya seperti tidak kenal dengan dirinya karena terlalu lama berjauhan”. Namun setelah itu dia terbiasa kembali. Setelah itu kadang suami beliau membawa kedua anaknya ke Semarang untuk bertemu ibu 2 bulan sekali.
            Bapak pada saat itu mencoba ikut tes lalu lulus di Universitas negeri Semarang. Kemudian mereka sekeluarga hijrah ke Semarang. Bu Hj. Maemunah turut ikut.  2001 Bu Wagiyem selesai kuliah dan pulang ke Pontianak.
Di rumah, Ibu tidak dibantu asisten rumah tangga saat ini, meskipun dulu sempat pernah. Semuanya dikerjakan sendiri;  melayani Ibu beliau, suami serta anak beliau (saat ini sedang kuliah di Yogyakarta).

Peran di Lingkungan Pemdidikan
            Setelah tamat S2 di tahun 2001, Bu Wagiyem dipercaya untuk menjadi ketua program studi (Kaprodi) Pendidikan Bahasa Arab sampai tahun 2004. Kemudian setelah itu terpilih menjadi Ketua Jurusan Syariah pada 2004-2008.
            Pada saat menjabat menjadi ketua jurusan, Bu Wagiyem menjadi pimpinan yang memandu bawahan dan rekan kerjanya untuk bisa belajar menjalankan organisasi dengan memberikan kesempatan dan mempercayakan beberpa tugas seperti saat saat kepanitiaan atau event-event yang ada.
            Tegas pada mahasiswa, disiplin dan tegas namun menyampaikan sesuatu dengan lembut, begitulah sosok beliau. Banyak dari  pengalamannya saat kuliah kemudian diterapkan saat mengajar seperti tegas pada mahasiswa yang ketahuan mencontek, dsb.
Setelah tidak lagi menjadi Kajur Syariah, Bu Wagiyem memutuskan menjadi dosen biasa. Mengabdi untuk pendidikan di kampus sampai dengan sekarang.
            Selain di IAIN, Bu Wagiyem juga sering diminta di Universitas Muhamadiyah Pontianak dan Akademi kebidanan Aisiyyah Pontianak. Ibu biasanya mengisi materi pengajian, diskusi baik untuk kalangan dosen maupun mahaiswa.
Peran di masyarakat
            Aktif  di luar kampus yaitu di organisasi masyarakat, Aisiyyah Kalimantan barat. Beliau merupakan adalah anggota Aisyyah. Pada saat menjabat di kampus, beliau masih belum terlalu aktif disini karena harus membagi waktu. Menurut beliau, organisasi Aisiyyah ini adalah organisasi perempuan yang punya ciki khas dengan model dakwah yang langsung bil aml (dengan perbuatan) tidak hanya bil lisan.
            Disana beliau mengelola lembaga-lembaga yang didirikan secara profesionl, sesuai dengan standar yang diterapkan. Didalamnya memuat banyak bidang, ada majelis kesehatan, majelis pendidikan ( seperti : TK, SD, SMP, SMA, SMK, atau Akbid  yang berada dibawah naungan yayasan), majelis unit usaha ekonomi, dll. Di Kalimantan Barat, organisasi ini tersebar di 13 daerah, setiap daerah mengkoordinir di daerah masing masing namun bertanggung jawab kepada pimpinan diatas.
            Bu Wagiyem diamanahkan untuk menjadi pimpinan selama 2 periode.  Masa kepengurusan beliau adalah sampai tahun 2020. Di sinilah beliau banyak melakukan pengabdian yang benar benar nyata kepada masyarakat, berbagi pengetahuan beliau, mengisi di majelis-majelis ilmu, dan banyak hal lain yang sangat bermanfaat dirasakan masyarakat secara langsung.

Pesan Bu Wagiyem Untuk Perempuan-Perempuan Kalimantan Barat:
            Perempuan adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan diberikan potensi. Potesi yang dimiliki tidak boleh diabaikan, dalam artian kita harus berfikiran kedepan, harus punya kemandirian.  walaupun sudah berkeluarga kalau bisa jangan bergantung keadaan suami, misalnya sebagai anak tidak boleh hanya begantung pada orang tua. Seorang perempuan itu harus mandiri. Tidak ada salahnya seorang istri berpartisipasi membantu untuk ekonomi keluarganya, anggap sebagai sedekah dan amal shaleh. Kesempatan yang digukanan harus dimaksimalkan.  Cita cita kita sederhana saja, menjadi orang baik sesuai hadist Rasulullah : Khoirunnas anfauhum linnas (bermanfaat untuk orang lain).
            Begitupun dalam rumah tangga, sebagai seorang istri kita tidak boleh terlalu banyak menuntut di luar batas kemampuan suami. Sehingga suami terpengaruh terdorong untuk melakukan hal hal yang melanggar aturan agama. Nauzubillahi min dzalik.  Dari segi ekonomi, istri kalau bisa membantu suami apapun dikerjakan tetap dengan  prisnsip harus halal. Jangan berfikiran jika Sarjana nanti malu melakukan pekerjaan yang sederhana padahal sebenarnya halal. Percaya dirilah dengan hal itu. Kita tidak tau ke depan akan seperti apa, apalagi jika hanya mengandalkan suami. Karena suami juga wajib memberi nafkah untuk orang tunya.
            Harus bisa mengajak suami untuk bersama-sama menjadi soleh, dan menjadikan dia anak yang sholeh bagi kedua org tuanya. Pandai-pandailah memanaje waktu. Kita bisa beraktivitas dan bermanfaat di sektor formal pekerjaan, informal di keluarga ataupun non formal di masyarakat. Jangan pernah merasa lelah, niatkan ini menjadi ladang  amal sholeh dan tabungan akhirat. Amalkan surah al-ash tentang dua golongan yang tidak akan pernah merugi yaitu yang beriman dan beramal sholeh. Semoga kita menjadi bagian darinya.Aamiin

 ******************
di bagian terakhir saya sertakan foto beliau bersama Suami.

 

Semoga Bermanfaat..
Murdianti.lusi

Review Buku “AGAR BIDADARI CEMBURU PADAMU”

September 13, 2018 1 Comments




Agar Bidadari Cemburu Padamu,
“Setangkai cinderahati untuk wanita shalihah pendamba surga, pembuat iri bidadari dan para lelaki yang ingin menikahi”
(Ustadz Salim. A Fillah)

*********
          Seminggu sebenarnya waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan buku yang dari judulnya saja sudah banyak yang suka. Harusnya saya bisa melahapnya dalam dua hari, tapi apa boleh buat ada aktivitas lain yang juga menuntut untuk diselesaikan. Oke, balik lagi pada buku “Agar bidadari cemburu padamu”, Pilihan kalimat pada judulnya menurut saya sangat menarik. Barangkali ini yang menyebabkan buku ini berulangkali dicetak ulang (Barakallah ustadz). Tanda tanya pasti muncul di benak kita “Apa iya bidadari bisa cemburu kepada wanita dunia? Hmm.. nanti akan terjawab.
          Nah, di bagian belakang cover buku. Sang penulis yaitu Ustadz Salim A.Fillah, salah satu penulis favorit saya; menyampaikan bahwa:
Buku ini hadir untuk wanita yang ingin menghadirkan atmosfer surga dalam setiap hirup nafasnya. Yang muda maupun yang telah kaya pengalaman hidup. Yang sudah mendampingi dan didampingi, juga yang sedang menanti. Lalu para lelaki, seharusnya mereka juga tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan keadilan syariat Allah. Menjaga tanpa mengekang, menghormati kebebasan namun tetap melindungi, serta memberikan rasa nyaman sekaligus rasa aman. Ia menjadikannya rusuk kiri, dekat ke tangan untuk dilindungi, dekat ke hati untuk dicintai.”

          Buku dengan 254 halaman ini terdiri dari beberapa bagian. Ada sepuluh bab kurang lebih yang berisi penjelasan yang penulis paparkan dan ceritakan. Sebelum memasuki bab demi bab, di halaman awal penulis melampirkan arti dari beberapa kosakata yang akan kita temukan di halaman-halaman selanjutnya di buku ini yang mungkin masih belum terbiasa didengar orang-orang pada umumnya  seperti afwan, akhwat, ikhwan, antum, tarbiyah, ta’aruf, dsb.. ini sangat membantu.
          Bab demi bab akan membuat kita hanyut dalam arus perenungan.

***************************
Menyelam Dan Berenang Di Laut Kasih Sayang
          Mengapa tak banyak yang pandai bersyukur? Begitu penulis membuka tulisan. Pertanyaan itu barangkali akan membuat kita tersentak.  Begitulah manusia, terkadang lupa dengan nikmat yang dianugerahkan Pencipta, hanya penyelam nikmat yang matanya terbuka, hatinya bercahaya dan akalnya sehat mencerna yang bisa memaknai betapa tidak ada penciptaan yang sia-sia, betapa Allah sayang kepada makhluk-Nya.
          Begitupun para wanita, penulis memaparkan kondisi pada masa jahiliyah dimana kekacauan logika berakibat fatal pada eksistensi wanita. Wanita dipandang sebelah mata ,direndahkan, bahkan tidak diterima. Lalu Islam hadir menyelamatkan dan memuliakannya, terhapuslah kezaliman atas hak hidup perempuan. Ketika risalah hadir, ia menjaga hak hidup wanita sehingga terus bertambah jumlahnya, Allah sempurnakan perlindungan-Nya lalu Allah tutup pintu-pintu kerusakan untuknya dengan aturan-aturan.
          Pada intinya, kita harus menyadari bahwa pembebasan yang dilakukan Islam untuk para wanita adalah salah satu bentuk nikmat terbesar yang wajib kita syukuri. Sekali lagi kita katakan “Betapa Allah sayang kepada kita”.

Sayang Padaku, Sayang Semuanya
          Di bagian ini, penulis mengajak kita untuk datang kepada Allah dan Rasul-Nya dengan husnudzan. Segala aturan yang disyariatkan adalah bentuk kasih sayang terbesar untuk hamba-hambaNya. Bagian ini membahas kedudukan wanita dalam Islam terkait beberapa hal. Kepemimpinan misalnya; dalam QS. An-Nisa: 34 disebutkan bahwa laki-laki adalah Qawwam (pemimpin) bagi kaum perempuan. Dalam Fatawi Mu’ashirah-nya Al-Qardlawi  menuliskan bahwa ini berkaitan dengan kehidupan berkeluarga yang didahului dengan penegasan kesetaraan hak dan kewajiban.
          Atau ada hadist yang menyebutkan bahwa “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menguasakan urusan mereka kepada kaum perempuan”. Rupanya yang dimaksud hadist ini menurut Syaikh Yusuf Qardlawi adalah kekuasaan umum seluruh umat (memimpin daulah). Adapun urusan tertentu yang khusus tidak ada larangan wanita untuk menguasainya seperti bidang pendidikan, administrasi dan lain lain. Untuk itu, wanita tidak perlu merasa diperlakukan tidak adil sebab di awal Surah An-Nisa (An-Nisa: 1) menegaskan bahwa hakikat penciptaan manusia adalah satu dan yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa.
          Selain itu ada juga terkait soal waris. Dengan aturan laki-laki mendapat dua bagian dan perempuan satu bagian. Hikmahnya adalah  kita patut sadari bahwasanya tanggung jawab yang harus dipenuhi  para lelaki juga lebih besar. Terkait akal dan agama, Rasulullah menyebutkan bahwa wanita adalah makhluk yang kurang akalnya. Juga dalam hal persaksian dimana jika tidak ada satu saksi laki-laki maka boleh digantikan dengan dua saksi wanita. Apakah berarti wanita tidak lebih mulia daripada laki-laki? Ternyata, yang dimaksud dengan kekurangan adalah kekurangan dalam hal kuantitas agama, bukan dalam hal kualitas. Hal ini juga disebabkan oleh karunia Allah seperti haidh sehingga para wanita punya masa libur beberapa waktu dalam hal ibadah wajibnya. Penulis menyebut inilah kesetaraan terindah. Ketika hak-hak individu laki-laki maupun wanita tak saling melampui. Coba kita renungkan QS. Al-Ahzab : 35.
          Pada akhirnya kita menjadi ridha pada pembagian ini. dari labuhan ikhlas, kita berangkat mengarungi laut kelapangan dada.
“Dan jangan lah kalian merasa iri terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian diantara kalian atas sebagian yang lain (Qs. An-Nisa : 32)

Bidadari Dan Kita, Mahakarya!
          QS.At-Tiin : 4-6  disematkan sebagai pembuka. Kita adalah mahakarya yang diciptakan Allah dengan perhatian Istimewa. Lalu bidadari, terdapat dalam QS. Ali Imran : 15 . “dan Isteri-Isteri yang suci”. Yang selalu suci, yang tak pernah beringus, berdahak, haidh dan tanpa hadats. Yang sebaya dan selalu muda. Itulah bidadari. Tak hanya fisiknya yang mempesona namun juga akhlaknya. Dalam QS. Arrahman : 56 disebutkan “di dalam surga itu terdapat bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya. Tidak pernah disentuh manusia sebelum mereka, tidak pula jin”. Kesucian bidadari adalah kesucian yang menyejukkan mata, membuat hati selalu ridha, rasa selalu fresh dan tentram. Dengan segala kelebihannya, apa iya bidadari bisa cemburu kepada kita? Dan  bagaimana kita bisa membidadarikan diri?
Dan ini jawabannya J:
        QS. Ad-dukhan : 51-54 menjadi pembuka sebuah dialog panjang antara Ummu Salamah dengan Rasulullah SAW. Dalam hadist yang sangat panjang ini ada satu kata kunci yang akan menghantarkan kita pada titik temu pemahaman dari pertanyaan yang sedari tadi kita fikirkan.
            “Ummu salamah bertanya: Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli. Beliau menjawab : Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan dari apa yang Nampak dari apa yang tidak terlihat.

            Ummu salamah kembali bertanya : Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama dari pada bidadari-bidadari? Beliau menjawab : karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di waja mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata “kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tak pernah bersungut sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memilliki kami dan kami memilikinya.

            Di penghujung pembicaraan Rasulullah berpesan : Wahai ummu salamah , akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat (H.R Ath-Thabrani)

                                                             
Dan Kaupun Semakin Mempesona
          Bagian ini membahas tentang aturan-aturan yang Allah berikan demi menjaga kehormatan para wanita sehingga dengan hal tersebut wanita semakin mempesona. Adalah perintah berhijab yang Allah turunkan “yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karenanya mereka tidak diganggu (QS. Al-Ahzab : 59) . QS. Al-A’raf : 26  juga memuat perintah tentang itu.
          Dalam hal berhijab ini terkadang masih banyak para wanita yang menolak memakainya. Penulis mengatakan “PD aja lagi!. Mengapa? Karena keraguan, bimbang, kecemasan, pesimisme, rasa rendah diri, malu , gelisah yang hadir mengahalangi niat seseorang berhijab adalah cara syaithan menghalangi kita taat kepada Allah. QS. Al-Baqarah: 68.
          Selain itu, dalam berhijab juga ada aturan. Boleh saja kita punya gaya berpakaian, tapi tetap syar’i. Diantaranya adalah menutup seluruh tubuh selain yang dikecualikan, bukan tabarruj, kainnya tebal,  kainnya longgar, tidak sempit, tidak jatuh, tidak diberi wangi haruman, tidak menyerupai laki laki, tidak menyerupai pakaian orang kafir dan bukan termasuk libasusyuhrah atau pakaian ketenaran.
          Jilbab bukan topeng, be your self neng! Kata penulis. Memang benar, Jilbab bukan lakon sandiwara yang mengharuskan kita jadi orang lain saat memakainya artinya jangan pernah khwatir dengan persepsi pengkhususan bahwa orang yang pakai jilbab itu harus lembut, halus tutur katanya dan feminism dalam arti sebenarnya. Adalah hal konyol ketika harus memaksakan diri menjadi orang lain setelah berhijrah (Ini kata penulis lho ya J, dan saya setuju sekali ). Alangkah sunyinya dunia jika semuanya berkarakter seragam. Akan tetap ada akhwat yang jago karate seperti Nusaibah binti ka’ab, akan tetap ada yang berkepribadian kuat dan pemberani seperti Ummi hani , akan tetap ada yang suka bermanja dan ceria seperti Aisyah, akan tetap ada yang bisa membentak dan tertawa terbahak seperti Hafshah, dan tetap akan ada yang lembut dan keibuan seperti Khadijah.

Riak Riak Rasa
          Inti dari bagian ini sebenarnya adalah membahas sesuatu yang fitrahnya dimiliki manusia yaitu rasa cinta. Bagaimana kita menjaga diri, menempatkan sesuatu sesuai syari’atnya juga bagaimana mengarahkan riak-riak itu ke muara yang seharusnya.

Di Kelas-Kelas Cinta
          Maka dibagian ini menjawab pertanyaan di bagian sebelumnya. Kemana harusnya rasa kita bermuara? Adalah Allah, cinta pertama yang harus kita ta’ati dan ikuti. Lalu cinta akhirat, cinta abadi yang kekal di sisinya sehingga apapun yang kita lakukan kita niatkan untuk investasi akhirat. Kemudian cinta Rasulullah, Sang Maha Guru Cinta sepanjang masa. Dilanjutkan pada iman, hijrah dan jihad. Selain itu juga kepada Ayah dan bunda, barulah sampai pada cinta semusim (pendamping dan imam yang mengantarkan kita kembali pada keta’atan).

Jika kau cinta, ikuti Dia
          Q.S ali Imran : 31. Cinta kepada Allah dan Rasulnya niscaya akan menghantarkan kita pada ketaatan yang sesungguhnya. Lalu muslimah, dimanakah ia diperkenankan berkiprah? Pada bagian ini, penulis dengan detail menulis bagaimana aturan wanita berperilaku. Di rumah misalnya di hadapan urusan rumah tangga seperti apa, kemudian anjuran untuk belajar dan menjadikan rumah sebagai akademi, dihadapan seorang tamu atau rombongan tamu. Lalu dalam syiar syiar ibadah, di mesjid, di mushalla, ketika I’tikaf, shalat gerhana, shalat jenazah, dalam haji, thawaf, berhaji saat hamil tua, dsb. Juga ditengah masyarakat, ketika sebagai tokoh pusat kunjungan, di walimatul ursy, menyaksikan hiburan masal, menghadiri undangan dsb. Tidak lupa juga di ranah profesi; sebagai dokter, perawat, penggembala, petani sukses, wirausaha. Ataupun pejabat Negara. Di ranah politik, majelis ilmu dsb dicontohkan bagaimana sahabat Rasulullah dan teladan yang Rasulullah lakukan.

Dan Nikahkanlah
          Di bagian buku ini kita tidak akan menemukan kiat-kiat praktis dan sistematis tentang bagaimana memilih jodoh atau meminang (Sebenarnya saya sendiri belum terlalu faham bagian ini, tapi saya coba memaparkan apa yang sudah beliau tulis J). Ayahku yang baik ; tentang bagaimana jika kita sudah siap menikah dan mulai mendiskusikannya dengan keluarga. Ayah Hafshah yang pemberani: Kisah umar mencarikan jodoh untuk puterinya. Sa’id ibn Musayyib: Ayah yang memilih, ada juga saatnya pada diri wanita ketika dia menawarkan diri sebab berselera tinggi, dan keIslaman adalah mahar  untuk wanita nya. Di jalan nikah aku berdakwah, apapun yang terjadi; begitu penulis memberi catatan.

Berkunjung Ke Rumah Rumah Cinta
          Bab ini menyajikan kisah-kisah keagungan perempuan di samping suami, di tengah keluarga dan masyarakatnya. Ada Isteri Nuh dan isteri Luth yang durhaka, tentang permintaan Aisyah yang indah atau kisah Rasulullah yang  pada Aisyah ia dapati rehat penuh cinta, tentang perjuangan Ummu Ismail mendapatkan air zam-zam, tentang Aminah Quthb, tentang Khadijah wanita pendamping Rasulullah mengukir prasasti risalah, tentang Nailah tempat kita belajar ketulusan , kisah Ummu Usamah, Ummu Muhammad dan kisah kisah lain yang mengisnpirasi.

Bagian terakhir: Ibu
          Pada bagian terakhir ini penulis menceritakan bagaimana keisimewaan menjadi seorang ibu dan betapa mulianya mereka.

****************************
          Sebagai penutup penulis mengatakan bahwa “Agar Bidadari Cemburu Padamu” adalah betul-betul bahasa dakwah untuk masyarakat. Yang sudah tak lagi merasa nikmat mengucap kata surga, yang sudah tak lagi tergerun mendengar kata neraka . Seperti kata hijjaz, semua sudah bangga dengan dosa. Maka kata bidadari, semoga menjadi kata yang mengikon dalam kezaliman yang dialami laki-laki maupun perempuan. Buku ini mengajak kita menghayati makna keshalihan dan makna keimanan sebagaimana Allah dan Rasululah tuntunkan. Setelah membaca buku ini semoga bisa membawa nyala semangat bagi gerak telunjuk dan fasihnya lisan agar selalu siap memperjuangkan kebenaran ya teman-teman. Semoga ini juga menjadi awal dari semangat perbaikan diri kita pribadi. Aamiin
Bismillah. “Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Rab semesta Alam. Tiada sekutu baginya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menjadi muslim (QS. Al-An’am:162-163)

Semoga bermanfaat..

Lusi Murdianti
@lsmdnt

6 Sep 2018

Dia, mengi(n)spirasi..

September 06, 2018 0 Comments
Hari ini aku bertemu seseorang; yang darinya aku belajar bahwa capaian hidup adalah tentang keinginan yang dalam, kesungguhan usaha, serta niat tulus meminta Pada-Nya.
Dan kapasitas juga bukan melulu tentang usia, melainkan rentang waktu usaha.

Dialah ;
Sosok pendiam, tapi ternyata luar biasa.
Seseorang yang bicaranya sedikit, retorikanya pun tak sefasih yang lain.  Tapi rupanya memiliki sesuatu yang istimewa.
Tampilannya biasa,  namun sesuatu yang tadi disampaikannya entah kenapa bisa memantik hal baru dalam diri sehingga yang mendengar menjadi bersemangat dan ingin juga sepertinya. Termasuk aku.

Begitulah ternyata hidup..
Setiap orang punya sisi unik tersendiri. Punya keistimewaan yang seringkali orang lain tak ketahui.
Dan Allah akan menganugerahkan "sesuatu" itu kepada yang benar-benar mau.
Pesonanya menjadi jelas terlihat setelah aku tahu bahwa dia "have something" .  Ibarat mutiara di dalam lautan. Tersembunyi, jauh dari riak-riak keramaian. Namun pancaran keindahannya mampu menyihir mata yang memandang.

Kepada seseorang yang baru saja kutemui, terima kasih sudah menginspirasiku begitu banyak dengan apa adanya dirimu. Dengan jawaban polosmu yang diam-diam menyentil sisi terdalam diriku.  Keinginan lama yang juga ingin kurealisasikan.
Semoga aku bisa menyusulmu dik..
Bismillah..

Jumat, langit sendu, dan keinginan yang menggebu.
❤️Murdianti. Lusi

31 Agu 2018

Ketika

Agustus 31, 2018 0 Comments


Ketika marah dan kecewa pada seseorang, ingatlah seribu kebaikannya.  Berapa banyak yang sudah diberikannya kepada kita.  Maka yakinlah marahmu akan hilang seketika .

Ketika bangga dengan diri, ingatlah berjuta kekurangan yang menghampiri. Berapa banyak aib yang sebenarnya belum tersingkap.  Maka yakinlah banggamu akan sirna..

Ketika sangat malu terhadap sesuatu, ingat jugalah untuk malu kepada Allah. Berapa banyak nikmat yang belum kita syukuri.  Berapa banyak maksiat yang belum kita sesali.  Maka yakinlah, rasa malumu akan beralih pada ketertundukan yang sendu.

Ketika berlebihan menyukai seseorang atau sesuatu.  Maka ingatlah bahwa semua yang ada hanyalah semu. Termasuk rasa dan Kecintaanmu.  Suatu waktu iya akan hilang berganti dengan yang baru..  Maka peruntukkanlah rasa cinta itu hanya untuk Yang Maha Satu..

Ketika sangat membenci sesuatu. Maka ingatlah bahwa semua yang Allah ciptakan punya nilai kebaikan.  Temukan saja hikmah dibalik itu.. Bencilah sesuatu yang dibenci oleh Allah..  Bukan menurut ukuran sebagai manusia yang lebih mementingkan nafsu..

Benci, cinta, kecewa, sedih, sesal dan marahmu adalah dinamika rasa hasil kelembutan hati..
Tempatkanlah ia di tempat seharusnya..


Pagi september dan sejuknya pelukan hujan.
❤️LM.